KAJIAN SOSIOLOGIS PENYIMPANGAN TINDAKAN SUNTIK PEMUTIH KULIT YANG DILAKUKAN OLEH TENAGA KEBIDANAN

Putu Diana Putri

Sari


Bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan bidan yang telah teregistrasi sesuai peraturan perundang-undangan. Tenaga kebidanan memiliki tiga tugas pokok, yaitu pelayanan kesehatan ibu, pelayanan kesehatan anak, dan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana. Namun pada kenyataanya beberapa oknum kebidanan telah melakukan tindakan tidak sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, yaitu membuka praktik suntik pemutih kulit. Suntik pemutih mengandung zat antioksidan. Antioksidan utamanya berupa vitamin C dosis tinggi (1000 s/d 4000mg) yang dicampur dengan glutation (600mg). Banyak juga yang menambahkan plasenta, plasenta dapat berasal dari manusia atau hewan, baik yang halal (sapi) atau haram (babi). Campuran zat tersebut kemudian disuntikan ke dalam tubuh, melalui injeksi pada otot bokong (intramuskuler), langsung ke pembuluh darah balik (intravena/infuse), bahkan disuntikan melalui wajah pasien. Kandungan vitamin C dalam satu kali melakukan suntik pemutih adalah 1000-4000 mg, padahal dosis yang dianjurkan hanyalah sebanyak 20-70mg per hari. Dampak yang ditimbulkan apabila tubuh terlalu banyak menerima asupan vitamin C biasanya berupa sakit kepala, sakit perut, mual, insomnia, diare, perut kembung, dan batu ginjal. Pada kasus ini, yang menjadi titik permasalahan adalah bidan yang sebenarnya tidak memiliki hak dan kewenangan untuk melakukan tindakan suntik pemutih kulit, namun mereka tetap membuka praktik ilegal tersebut.

 

Kata Kunci: Hukum Kesehatan, Penyimpangan, Tenaga Kebidanan, Suntik Pemutih Kulit.


Teks Lengkap:

PDF

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.



E-ISSN : 2598-3105 


CEPALO adalah jurnal yang diterbitkan oleh Magister Ilmu Hukum Universitas Lampung, dengan lisensi Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.